| LOKAKARYA |
|
|
|
|
LOKAKARYA
Pada tahun 2000 Indonesia bersama 189 negara lainnya dalam keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah bertekad untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan melalui Millenium Development Goal’s (MDGs), satu diantara delapan sasaran yang ingin dicapai pada tahun 2015 adalah terjaminnya keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Agar sasaran MDGs bisa tercapai lebih cepat, maka pada pertemuan puncak mengenai Pembangunan Berkelanjutan (tahun 2002) yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa telah disepakati untuk lebih fokus dan mengintegrasikan upaya-upaya pada bidang Air, Energi, Kesehatan, Pertanian dan Keanekaragaman Hayati (WEHAB= Water, Energy, Health, Agriculture, Biodiversity). Salah satu faktor pemicu utama yang dapat menghambat pencapaian tujuan MDGs adalah perubahan iklim. Laporan IPCC (International Panel on Climate Change) pada April 2007 tentang dampak, kerentanan, dan adaptasi pada perubahan iklim mengemukakan bahwa kurang lebih 20-30% tumbuhan dan hewan diperkirakan akan meningkat resiko kepunahannya jika kenaikan temperatur global rata-rata di atas 1,5 - 2,5 ºC. “KEANEKARAGAMAN HAYATI UNTUK PENCAPAIAN Penyelenggara: Keanekaragaman hayati merupakan sumber inspirasi terciptanya suatu teknologi untuk kesejahteraan masyarakat dan pusat dari semua sektor yang penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu dikenalnya Indonesia sebagai negara yang kaya dengan keanekaragaman hayatinya, akan menjadi kebanggaan semu, apabila Indonesia tidak memiliki kemampuan dalam mengelola secara arif untuk kepentingan masyarakat Indonesia khususnya, maupun dunia pada umumnya. Suatu pemanfaatan keanekaragaman hayati yang tak terkendali dan terlalu menekankan pada keuntungan jangka pendek adalah suatu tindakan yang mengarah pada penurunan kualitas hidup secara cepat. Berhubung manusia tergantung dengan ekosistem alamiah untuk menyediakan makanan, perumahan, pakaian dan obat-obatan, oleh karena itu hilangnya suatu jenis sumberdaya hayati membuat kita selangkah lebih dekat pada kepunahan diri kita sendiri. Dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Indonesia IX (KIPNAS IX) yang akan diselenggarakan pada tanggal 20-22 November 2007, kelima bidang tersebut akan menjadi bidang yang dibahas secara mendalam. Agar Perhimpunan Biologi Indonesia dapat berperan aktif dan dapat menyumbangkan pemikiran pada KIPNAS IX khususnya untuk bidang keanekaragaman hayati, maka Perhimpunan Biologi Indonesia bekerjasama dengan Pusat Penelitian Biologi - LIPI bermaksud akan menyelenggarakan lokakarya “Keanekaragaman Hayati untuk Pencapaian Millenium Development Goals” . Hasil lokakarya ini diharapkan adanya pemikiran dari para peserta lokakarya yang dapat memberi masukan mengenai pengelolaan keanekaragaman hayati yang dapat menjamin agar keanekaragaman hayati tidak hanya bertahan hidup tetapi meningkat ketika dimanfaatkan, sehingga membentuk dasar untuk pembangunan yang berkelanjutan. TUJUAN
HASIL YANG DIHARAPKAN Sumbang pikir yang dirumuskan oleh Perhimpunan Biologi Indonesia yang akan disampaikan pada Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS IX), agar pemerintah lebih memunculkan pengarus-utamaan (mainstreaming) ilmu pengetahuan sebagai gerakan nasional untuk solusi menyelamatkan keanekaragaman hayati untuk tercapainya sasaran MDGs dalam upaya mendukung pembangunan berkelanjutan. TEMAKeanekaragaman Hayati untuk Pencapaian Millenium Development Goals WAKTU DAN TEMPATKegiatan Lokakarya selama satu hari tentang “Keanekaragaman Hayati untuk Kehidupan Manusia” merupakan kerjasama antara Pusat Penelitian Biologi-LIPI dengan Perhimpunan Biologi Indonesia yaitu pada tanggal 8 - 9 November 2007 di Gedung Widyasatwaloka, Pusat Penelitian Biologi – LIPI, Jl. Raya Jakarta-Bogor KM 46, Cibinong, Bogor 16911. PESERTALokakarya akan diikuti oleh para ilmuwan biologi, pemerhati biologi/keanekaragaman hayati/lingkungan dan pengambil kebijakan. Peserta terdiri dari pembicara utama, nara sumber, para peneliti dan ilmuwan terkait dengan topik lokakarya. Peserta keseluruhan sekitar 100 orang.DAFTAR ACARA
KELOMPOK:
Setiap kelompok terdapat 1 (satu) nara sumber dan akan mempresentasikan bahan untuk diskusi kelompok. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Last Updated ( Monday, 05 November 2007 ) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|
