Jakarta, 15 Desember 2006. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyelenggarakan Lokakarya: “Keanekaragaman Hayati di Ujung Tanduk" Iptek Solusi untuk Menyelamatkan Kelestariannya. Lokakarya benlangsung di gedung Widya Graha LIPI Iantai 1, JI Gatot Subroto 10 jakarta, pada tanggal 18 -19 Desember 2006. Deputi Bidang Ilmu Hayati LIPI Prof. Dr. Endang Sukara, mengatakan penyelamatan kenekaragaman hayati menjadi keperluan yang sangat mendesak. “Bahkan suatu keharusan,” tegasnya. Menurutnya, jika penyelamatan tidak segera dilakukan maka keberadaan manusia akan terancam.
Berdasarkan data dan fakta yang ada, terlihat bahwa keanekaragaman hayati terus menerus mengalami kemerosotan. “Hutan tropika yang menjadi gudang keanekaragaman hayati telah menyusut lebih dan setengahnya,” paparnya. Bahkan menurutnya Iahan pertanian juga telah mengalami degradasi, baik kualitas maupun kuantitasnya. Ditambahkannya, menjadi satu ancaman yang serius bagi manusia karena bila seandainya hanya tersedia satu jumlah varietas padi, yang akhirnya punah. ‘Varietas padi yang merupakan komponen pangan utama, yang menyusun 26% penyediaan pangan manusia, sangat tergantung pada keanekaragaman hayati,” tambahnya. Salah satu tujuan Lokakarya ini adalah mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan tindakan yang telah dilakukan dalam upaya mengatasi ancaman-ancaman terhadap keragaman hayati di Indonesia. Solusi bersama untuk mempercepat kegiatan aksi menangani kelestanian hayati diharapkan dapat ditemukan dalam Iokakarya ini. (@Humas LIPI). Beberapa Makalah Yang Dipresentasikan Oleh: "IPTEK - Solusi Untuk Menyelamatkan Kelestariannya” Keanekaragaman hayati di ujung tanduk, begitulah keadaan keanekaragaman hayati pada tingkatan global, di seuruh dunia. Tidak berbeda keadaannya di Indonesia. Bangsa di bagian dunia manapun akan tergantung pada keanekaragaman hayati untuk kelangsungan hidupnya. Keanekaragaman hayati merupakan suatu fenomena alam mengenai keberagaman makhluk hidup, dan kompleks ekologi yang menjadi tempat hidup bagi makhluk itu. Keanekaragaman hayati dengan pengertian seperti itu mencakup interaksi antara berbagai bentuk kehidupan dan dengan lingkungannya, yang membuat bumi ini menjadi tempat yang layak huni dan mampu menyediakan jumlah besar barang dan jasa bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia. Walaupuri demikian, keanekaragaman hayati terus-menerus mengalami kemerosotan. Keanekaragaman hayati terdapat di berbagai ekosisem, baik yang terestrial (daratan) maupun yang akuatik. Di kedua bentuk ekosistem ini, keanekaragaman hayati menghadapi ancaman serius. Hutan tropika yang menjadi gudang keanekaragaman hayati te!ah menyusut lebih dari setengahnya. Lahan pertanian telah mengalami degradasi, baik kualitasnya maupun kuantitasnya. Hampir dua pertiga lahan pertanian telah terdegradasi. Ancaman dan kerusakan juga dialami oleh terumbu karang, mangrove dan kehidupan laut lainnya. Dengan kondisi keanekaragaman hayati seperti ini, manusia yang sadar akan pentingnya dan sadar akan adanya ancaman terhadap keanekaragaman hayati telah melakukan upaya. Pada tahun 1992, UNEP melaksanakan UNCED (United Nations Conference on Environment and Development) di Rio de Janeiro, Brazil, dan menghasilkan, salah satunya adalah Convention on Biological Diversity (CBD). Tujuan utama konvensi ini ialah melestanikan keanekaragaman hayati, memanfaatkan sumber daya genetik secara berkelanjutan dan memastikan pembagian keuntungan secara adil dan merata dan pemanfaatan tersebut. Sumber daya genetik adalah benda atau barang yang merupakan unit atau komponen keanekaragaman hayati. Benda atau barang inilah yang dimanfaatkan secara langsung. Nyatalah bahwa makin besar keanekaragaman hayati, makin banyak pula sumber daya genetik, dan makin besar pula peluang pemanfaatannya, karena makin banyak pilihan barang yang dapat dimanfaatkan. Pilihan sumber daya genetik tergantung pada tersedianya keanekaragaman hayati. Bila seandainya hanya tersedia satu atau jumlah terbatas varietas padi, bila satu atau jumlah terbatas ini hilang, punah misalnya, tidak ada pilihan lagi. Akibatnya bagi menusia dapat dibayangkan. Padi merupakan komponen pangan utama yang menyusun 26% penyediaan pangan manusia. Selain pada tingkat varietas (di dalam spesies), pentingnya keanekaragaman juga dirasakan pada tingkat spesies. Misalnya, Indonesia merupakan pusat keanekaragaman marga dunian. Dengan belasan spesies Durio, pilihan pemanfaatannya tidak terbatas pada durian biasa (zibethinus), tetapi kini sudah mulal dimanfaatkan spesies lain, yaitu lae (kutajensis). Masih banyak pilihan dan marga Durio ini yang mempunyai peluang pemanfaatan. Begitu juga halnya yang dapat terjadi pada hewan, misalnya ayam, kerbau, dan ternak lain, serta ikan. Keanekaragaman hayati pada tingkat di dalam spesies (varietas) memberikan peluang kepada manusia untuk mengotak-katiknya dengan hasil varietas baru yang mempunyai keunggulan lebih. Pemuliaan tanaman atau hewan merupakan upaya manusia yang tergantung berat pada tersedianya keanekaragaman unit-unit di dalam spesies. Dengan tersedianya berbagai varietas — padi misalnya — tersedia peluang untuk menyilang-silangkan varietas-varietas tententu untuk memperoleh varietas padi baru yang dikehendaki manusia. Tersedianya varietas-varietas padi terwujud dari proses penyilangan dalam pemuliaan. Hal yang sama terjadi pula pada spesies-spesies lain tanaman dan hewan. Bila bahan untuk pemuliaan tanaman atau hewan tersedia, dan pemuliaan dapat dilakukan di dalam negeri sendiri, akan dapat dilakukan pengurangan ketergantungan pada impor bibit. Varietas baru, yang disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri dapat diciptakan sendiri. Kalau hal ini dapat dilakukan sendiri, maka jelas ketergantungan pada impor dapat dikurangi atau bahkan dihentikan. Peran keanekaragaman hayati juga terjadi pada taraf ekosistem. Dengan berbagai macam ekosistem, baik yang alami (hutan, gunung, lautan, dsb) maupun yang buatan manusia (sawah, pekarangan, kolam ikan, tambak, dsb) akan dapat dilakukan pemilihan pemanfaatannya, Peluang pemanfaatan ini makin besar bila keanekaragaman ekosistem makin besar pula. Tersedianya keanekaragaman spesies akan lebih besar bila terdapat lebih banyak ekosistem. Untuk pertanian tanaman saja, misalnya, adanya banyak ekosistem pertanian akan menyediakan banyaki pilihan komponen keanekaragaman hayati. Sawah saja akan menyediakan padi, tetapi bila ditambah ladang dan pekarangan, akan dapat diperoleh lebih banyak pilihan. Dengan adanya kolam ikan, akan lebih banyak lagi sumber daya genetik yang dapat dimanfaatkan. Begitu pula keuntungan yang dapat diperoleh dari ekosistem-ekosistem lainnya. Makin beranekaragam ekosistem, makin banyak sumber daya genetik yang dapat disediakan. Walaupun disadari dan dirasakan betapa pentingnya bagi kesejahteraan manusia, keanekaragaman hayati ini mengalami ancaman besar. Laju kemerosotannya terusmenerus meningkat. Kini bahkan kedudukannya ada di ujung tanduk. Kalau tidak waspada, keanekaragaman hayati akan terhempas dan tidak mampu berperan lagi bagi kesejahteraan manusia. Manusia sebagai spesies di bumi akan terhempas pula dari muka bumi. Oleh karena itu, penyelamatan keanekaragaman hayati ini menjadi kepenluan yang sangat mendesak, bahkan suatu keharusan! Dunia telah berupaya melakukan berbagai tindakan penyelamatan. Pada tahun 2001 telah dinyatakan pentingnya mencapai sasaran perunan kemerosotan keanekaragaman hayati pada tahun 2010. Dengan tenggang waktu 10 tahun sejak dicanangkannya, diharapkan sudah dapat dicapai hasil yang memadai. Kini sudah akhir tahun 2006, tinggal 3 tahun lagi untuk mencapai sasaran. Kelihatannya masih jauh sasaran yang akan dicapai itu. Ada tujuh bidang yang menjadi fokus pelaksanaan upaya ini: 1) | Mengurangi laju kemerosotan komponen-komponen keanekaragaman hayati; | 2) | Mendorong pemanfaatan secara berkelanjutan; | 3) | Memberikan perhatian kepada ancaman terhadap keanekaragaman hayati, termasuk gangguan dari spesies asing yang menggeser spesies asli, perubahan iklim, pencemaran, dan perubahan peruntukan habitat; | 4) | Mempertahankan integritas ekosistem dan penyediaan barang dan jasa dari keanekaragaman hayati dalam ekosistem; | 5) | Melindungi pengetahuan, inovasi, dan praktek-praktek tradisional; | 6) | Menjamin pembagian keuntungan secara adil dan merata yang dihasilkan dari pemanfaatan sumber daya genetik; | 7) | Memobilisasi sumber-sumber dana dan teknis untuk pelaksanaan Konvensi mengenai Keanekaragaman Hayati. | Berbagai upaya dicoba dilaksanakan di Indonesia, tetapi masih ada masalah serius yang menjadi hambatan pelaksanaannya: | — | Kesadanan masyarakat akan kegunaan keanekaragaman hayati sangat terbatas, banyak yang belum menyadari bahwa keberadaan berbagai ragam makhluk itu diperIukan untuk dimanfaatkan baik secara langsung kini, maupun sebagai cadangan bila yang dimanfaatkan sekarang ini tidak ada lagi. Pandangan masyarakat seperti ini harus diperbaiki, mereka diajak untuk memahami peran penting keanekaragaman hayati sebagai peluang dalam mempertahankan kelangsungan hidup manusia. Artinya: dengan makin banyaknya pilihan, makin besar pula peluangnya untuk bertahan hidup. Hilang yang satu masih ada yang lain. Untuk membuktikannya diperlukan iptek. | — | Sekarang ini kebanyakan pemerintah daerah masih belum menyadari pentingnya keanekaragaman hayati di daerahnya bagi peningkatan pendapatan daerah. Kebanyakan pemerintah daerah masih mengandalkan sumber daya alam yang dalam jangka pendek dapat segera menghasilkan rupiah! Keanekaragaman hayati di daerah jarang diperhatikan. Akibat atau mungkin juga penyebabnya adalah tidak adanya pemikiran jangka panjang. Meyakinkan perlunya pemikiran jangka panjang memerlukan hasil penelitian ilmiah. | — | Akibat dari dua hal tersebut di atas adalah tidak adanya penentuan prioritas dalam pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia, mencakup pilihan komponen dan tindakan yang akan dilakukan. Keadaan ini telah mendorong Organisasi Profesi llmiah (OPI) Indonesia bersama LIPI untuk memperoleh penjelasan dari kalangan pemenintah dan DPR mengenai Iangkah apa yang diperlukan dari OPI agar upaya penyelamatan keanekaragaman hayati Indonesia benar-benar dapat diwujudkan. Ada beberapa hal praktis yang memperbesar hambatan dalam penyelamatan keanekaragaman hayati Indonesia: | | V | Gaji/insentif bagi peneliti di bidang keanekaragaman hayati masih sangat rendah, sehingga para peneliti lebih memilih bidang lain, apa saja asal gaji atau insentifnya tinggi. | | V | Untuk keberhasilan penelitan di bidang keanekaragaman hayati diperlukan jangka panjang; keadaan ini tidak banyak menanik penelitian, karena menyebabkan penantian terlalu lama. Kebanyakan peneliti di Indonesia lebih manyukai “penelitian instan”. Lagipula, sistem penilaian keberhasilan peneliti dalam jenjang fungsional peneliti belum memihak penelitian jangka panjang. | | V | Minat peneliti terhalang oleh keadaan tersebut di atas. Perlu ada perubahan yang konseptual. | — | Hambatan-hambatan tersebut telah menimbulkan hambatan lain, misalnya dalam pengendalian hama tanaman atau hewan pertanian yang meninggalkan makna keanekaragaman hayati; manfaat dan keunggulan sistem tumpang sari dan pekarangan sudah sering dilupakan dan ditinggalkan; pengalihan fungsi ekosistem, misalnya dan hutan menjadi perkebunan, dan sawah menjadi permukiman, dan sebagainya. Rincian keunggulan peran keanekaragaman hayati ini memerlukan hasil penelitian iptek. |
Dari uraian di atas jelas bahwa untuk mengatasi ancaman terhadap keanekaragaman hayati diperlukan ilmu pengetahuan dan teknoiogi. llmu pengetahuan diperlukan untuk menginventarisasi keanekaragaman hayati di Indonesia, dalam berbagai aspeknya, keberadaannya, sebarannya, manfaatnya, ancaman-ancmannya, dan sistem pengelolaannya. Untuk mengatasi hambatan-hambatan juga diperlukan teknotogi tepat guna. Jadi, jalan utama penyelamatan kelestarian keanekaragaman hayati adalah dengan iptek. Inilah fokus pembahasan dalam Loka Karya ini dan diharapkan OPI bersama LIPI dapat merumuskan langkah realistik yang akan dilaksanakan oleh sektor-sektor yang mempunyai tanggung jawab melaksanakannya sampai berhasil. |
|